Ada kalanya dibutuhkan penambahan hardware; yang paling sering dilakukan di mesin-mesin server Debian, seperti harddisk dan ethernet. Karena Debian saya tidak menggunakan Desktop Environment jadi proses konfigurasi dilakukan di console.

hdd jadulether 4 ports

Penambahan Harddisk

Shutdown dulu mesin Debian  dengan benar, menggunakan perintah ‘init 0’ atau ‘shutdown’. lalu buka casing server/pc dan pasang harddisk ke slot yang masih kosong. Baik SAS/Scsi/Sata/Ide tidak masalah, yang penting controllernya terdeteksi di Debian. Dilanjutkan pemasangan Ethernet tambahan pada slot pci/pcie.

Lantas ketika sudah masuk ke prompt root ketikan

root@debian7:~# dmesg | grep disk
[ 2.849077] sd 0:0:1:0: [sdb] Attached SCSI disk
[ 2.865557] sd 0:0:0:0: [sda] Attached SCSI disk
[ 3.209401] PM: Starting manual resume from disk
root@debian7:~#

Nah perhatikan output diatas, harddisk yang terpasang lebih awal — tetapi kalau pemasangan jalur kabelnya sembarangan, ya belum tentu boot drive adalah sda 😀 — sdX artinya harddisk  bertipe SCSI (lain dengan iSCSI). Jika harddisk IDE/Sata biasanya hdX, jadi sesuaikan dengan kondisi hardware anda.

Kembali ke hasil output dmesg. Harddisk ‘baru’ saya terdeteksi oleh sistem dan dikasih ‘link’ bernama ‘sdb’. Kalau tidak yakin, yang mana harddisk sistem (boot) anda, coba ketikkan ini ‘cat /etc/fstab’. Akan muncul nama harddisk boot anda disitu. Misalnya /dev/sda1 atau /dev/sda2.

Nah kalau bingung koq ada nomor di belakan sda? Itu maksudnya partisi. /dev/sda1 artinya harddisk scsi pertama dengan urutan partisi 1. sengaja saya tidak dump output dari peritah cat nya, karena akan lain-lain hasil outputnya.

Selanjutnya — karena harddisk baru belum di belum bisa diakses. Karena biasanya masih bersifat Raw file system. alias kosong — bawaan pabrik. Untuk itu kita perlu membuat partisi agar bisa di format dengan file system, dengan tujuan agar bisa di isi file. Debian 7 secara default; sudah mengikutsertakan paket partisi cfdisk. Kalau cfdisk tidak ada, terpaksa menggunakan perintah fdisk yang menakutkan 😀

clint eastwood 1_2

 

# cfdisk /sdb
cfdisk (util-linux 2.20.1)

Disk Drive: /dev/sdb
Size: 19327352832 bytes, 19.3 GB
Heads: 255 Sectors per Track: 63 Cylinders: 2349

Name Flags Part Type FS Type [Label] Size (MB)
------------------------------------------------------------------------------
Pri/Log Free Space 19327.36*

[ Help ] [ New ] [ Print ] [ Quit ] [ Units ]
[ Write ]

Create new partition from free space

Karena masih kosong Freespacenya sejumlah kapasitas harddisk,  saya buat  partisi primary dengan menggeser kursor ke arah [new] lalu [primary]. Untuk Size, cukup tekan enter saja kalau memang harddisk ini hanya diperlukan 1 partisi.

Selanjutnya tampilan akan seperti ini:

cfdisk (util-linux 2.20.1)

Disk Drive: /dev/sdb
Size: 19327352832 bytes, 19.3 GB
Heads: 255 Sectors per Track: 63 Cylinders: 2349

Name Flags Part Type FS Type [Label] Size (MB)
------------------------------------------------------------------------------
sdb1 Primary Linux 19327.36*

[ Bootable ] [ Delete ] [ Help ] [ Maximize ] [ Print ]
[ Quit ] [ Type ] [ Units ] [ Write ]

Toggle bootable flag of the current partition

 

Pilih saja [Write] lalu ketikkan ‘yes’. Lalu pilih [quit] untuk keluar. Setelah proses partisi, harddisk belum bisa ditempati karena belum di format. Untuk itu cukup gunakan perintah: “mkfs.ext4 /dev/XXX”

# mkfs.ext4 /dev/sdb
mke2fs 1.42.5 (29-Jul-2012)
Could not stat /sdb --- No such file or directory

The device apparently does not exist; did you specify it correctly?
root@debian7:~# mkfs.ext4 /dev/sdb
mke2fs 1.42.5 (29-Jul-2012)
/dev/sdb is entire device, not just one partition!
Proceed anyway? (y,n) y
Filesystem label=
OS type: Linux
Block size=4096 (log=2)
Fragment size=4096 (log=2)
Stride=0 blocks, Stripe width=0 blocks
1179648 inodes, 4718592 blocks
235929 blocks (5.00%) reserved for the super user
First data block=0
Maximum filesystem blocks=0
144 block groups
32768 blocks per group, 32768 fragments per group
8192 inodes per group
Superblock backups stored on blocks:
32768, 98304, 163840, 229376, 294912, 819200, 884736, 1605632, 2654208,
4096000

Allocating group tables: done
Writing inode tables: done
Creating journal (32768 blocks):

Writing inode tables: done
Creating journal (32768 blocks): done
Writing superblocks and filesystem accounting information: done

 

Untuk mengakses sdb, kita perlu membuat folder untuk mount-point. Biasanya terletak di /mnt atau sesuka hati anda sih. Biasakan peletakan NFS (Network File System), iSCSI, serta harddisk ditempat tsb. Kalau device lain, seperti optical; flashdisk letaknya di /media atau di /mnt juga.yang bener5

 

# mkdir /mnt/data2
# mount /dev/sdb /mnt/data2
# echo tes tulis >/mnt/data2/tes.txt
# tail /mnt/data2/text.txt

 

Kalau diakhir peritah ada tulisan ‘tes tulis’ berarti harddisk baru sudah terinstall baik di sistem. Untuk itu agar otomatis harddisk baru di aktifkan saat boot cukup masukkan perintah ini

# cp /etc/fstab /home/fstab-bak
# echo /dev/sdb /mnt/data2 auto >>/etc/fstab

 

perhatikan ‘>>’ penting sekali. kalau cuma satu ‘>’ bisa hilang setingan fstab anda 😀
kalau salah, ada backupnya koq di /home/fstab-bak.

Penambahan Ethernet

Selesai untuk bahasan harddisk. Selanjutnya penambahan ethernet baru.

Sama seperti harddisk diatas; pergunakan perintah dmesg agar melihat device apa saja yang terpasang pada mesin yang sudah dikenali oleh Sistem. Oh ya, saya menambah 2 ethernet tambahan –jadi total eth ada tiga devices.

# dmesg | grep eth
[ 2.785594] rtl8111e: eth0: registered 10/100/1000 PCI Ethernet
[ 2.786188] rtl8111e: eth1: registered 10/100/1000 PCI Ethernet
[ 2.786719] rtl8111e: eth2: registered 10/100/1000 PCI Ethernet
[ 10.932105] rtl8111e 0000:02:00.0: eth0: link up
[ 24.680098] eth0: no IPv6 routers present

 

Perhatikan tulisan ‘link up’. itu artinya ethernet yang sedang aktif sewaktu installasi/boot system. Ethernet internal lainnya terdeteksi sebagai device eth1 & eth2. Jika tidak muncul, kemungkinan besar ethernet anda tidak dikenali oleh Debian.

Untuk mengeset link up dan ip address eth tambahan tsb, saya hanyak cukup mengedit file di /etc/network/interfaces. memang sangat manual; untuk itu dibutuhkan editor file text. bisa pergunaan nano, vi atau bisa juga dengan mc.

tambahkan pada ‘allow-hotplug eth0’ menjadi sesuikan dengan eth yang terdeteksi diatas

allow-hotplug eth0 eth1 eth2

 

lalu pada akhir file tambahakn konfigurasi ip nya sbb: (sesuaikan dengan network anda):

 

iface eth1 inet static
address 192.168.16.7
netmask 255.255.255.0
network 192.168.16.0
broadcast 192.168.16.255

iface eth2 inet static
address 192.168.16.8
netmask 255.255.255.0
network 192.168.16.0
broadcast 192.168.16.255

 

lalu tinggal ketikkan:

#ifup eth1 eth2

Artinya membuat eth1 & eth2 aktif pada saat itu juga. Pada saat boot system seharusnya eth barusan di seting sudah aktif dan siap berkomunikasi.

 

ngelirik

 pikir2

kuncian: menambah harddisk baru, tambah harddisk baru pada linux debian
Situs ini kehilangan image dan files penunjang; karena terjadi storage failure dan saya tidak menyimpan backupnya - harap maklum
+