Mungkin anda ditugaskan untuk membuat website kantor? Agar bisa diakses file-file hasil desain/aplikasi web tsb, harus ditempatkan disebuah server yang Online 24/7. Setelah browsing-browsing pasti banyak menemukan istilah (Shared) Hosting, VPS, Dedicated, Co-location server. Nah mana yang cocok untuk anda?

wordpress1

Bila ingin membuat website portofolio kantor yang biasanya static page ataupun dinamis tetapi menggunakan WordPress CMS-CMS populer lainnya, pilihan termurah adalah Shared Hosting. Mengapa? Cukup upload melalui jalur FTP/ Web-uploader dalam beberapa saat, website sudah bisa diakses. Dengan catatan pointing Domain sudah ke IP Server shared hosting tsb. Shared hosting ini-pun cocok untuk blog pribadi. Ada banyak provider hosting di Lokal apalagi di Luar negeri sana. Banyak provider hosting mempunyai fitur control panel yang bagus serta installasi Web APPs secara mudah.

Yang perlu diperhatikan selain harga adalah Kapasitas, Bandwidth meter (quota transfer) per-Bulannya. Dan pastikan jangan membeli domain ditempat hosting tadi 😀 — biar tidak repot dikemudian hari.

Sedikit Out-of-topic, ada baiknya membeli domain (selain dot id) di situs-situs terkemuka di Luar negeri. Tetapi diperlukan Akun Paypal (kartu kredit). Namecheap, Godaddy, Network Solution adalah pilihan saya, jika mau membeli domain .com .net dsb. Mengapa tidak sekalian pada tempat hosting/dedicated/vps? Jika anda tidak puas dengan layanan provider tsb, cukup buka control-panel domain arahkan DNS ke Server DNS/ Ip server baru — niscaya bisa langsung pindah `rumah` 😀 Jika tidak, terpaksa anda transfer domain dari satu provider ke provider lain yang memakan waktu. Bisa dari 1 hari hingga 1 bulan 🙁 tergantung sikon.

Untuk blogger `serius`, yang mulai banyak pengunjung websitenya; dan sudah mulai profit-oriented diperlukan VPS-hosting. Mengapa? karena resource RAM & CPU biasanya sudah `dedicated` khusus untuk satu akun. Tetangga, tidak bisa mengambil jatah resource VPS lain. Jika tidak sanggup mengelola `OS` sendiri. Banyak provider hosting-vps menawarnkan managed-service. Artinya installasi web-apps, misalnya SMF, Vbulletin, WordPress dll dilakukan oleh Customer Support. Dan tentu juga pelaksanaan strategi backup bisa juga dilakukan oleh mereka; tergantung kontrak servis nya. Dan banyak ditemui Spek VPS jarang yang unlimited transfer-rate. Kecepatan koneksinya memang banyak yang bagus, misalkan 10 mbps tetapi ada quoatanya 😀

Untuk korporasi menengah dan tidak mempunyai Staff IT yang banyak, tetapi membutuhkan koneksi yang `pure` serta sumber-daya server (resource) yang tidak berbagi lagi dengan yang lain — pilihan bijak adalah Dedicated Server. Dimana Server akan di Setup oleh ISP/provider mulai dari installasi OS (linux/bsd/windows), lalu Service database, bahkan upload data juga bisa dilakukan via offline dengan mengirimkan media kepingan Dvd ataupun media storage-data yang lainnya. Jika memang benar-benar ingin bebas maintain, silakan ambil kontrak untuk respon siaga, backup full ke media lain (atau server backup lain).

Oh ya, spek hardware biasanya sistem Paket dan hanya SEWA selama kontrak — misalnya anda memesan dengan spek hardware dual-soket quad core CPU Amd, ram 16 GB DDR 3 ECC, Harddisk SAS 300 Gb x 2 RAID, kontrak untuk backup ke media external harddisk. So hardware tsb tidak bisa anda miliki, cuma `sewa` selama `kontrak` masih berlaku. Dan bahkan segala sesuatunya, mulai pemesanan sampai situs online, anda tidak perlu bertatap muka dengan provider Dedicated-Server hosting tsb 😀 😀

server rack

Co-location berarti menempatkan mesin yang anda miliki pada ruangan khusus yang biasanya sering disebut dengan Internet Data Center. Dimana temperatur ruangan, kelembaban, suplai listrik dalam kondisi ideal untuk beroperasinya mesin server. Co-location semuanya serba mandiri. Mulai dari pembelian mesin, installasi Software, delivery hardware ketempat Data center, serta maintenannya. Staff NOC (Network Operating Center IDC) memang bisa membantu; misalnya untuk mereset server ataupun hal kecil lainnya. Tetapi semua terbatas. Bandwidth yang diberikan sesuai kontrak. Misalnya 10 mbps untuk lokal dedicated, lalu shared 1 mbps untuk internasional; dan yang pasti no-quota. Untuk siapa co-location ini? Untuk perusahaan menengah – atas. Yang akan memiliki lebih dari 2 server dan memiliki staff-it yang mengerti teknis penanganan, birokrasi di Data center.

Lalu dimana letak perbedaan teknis antara Shared hosting, VPS, Dedicated serta co-Location?

Shared hosting: anggap pada satu OS terdapat puluhan (bahkan ribuan) folder data website. Tetangga situs cuma beda `folder` saja dengan anda. Misalnya letak document webssite ada di /usr/local/www/data*. Nah pada folder /data tsb ada banyak folder-folder lainnya misalnya /usr/local/www/data/situskeren.net, /usr/local/www/data/jualindong.org dan seterusnya. Dimana setiap username yang anda terima hanya bisa mengakses folder yang sudah ditentukan. Misalnya pemilik situskeren.net ber-user-name-kan: budi9000 nah si budi9000 itu tidak bisa mengakses folder lain selain /usr/local/www/data/situskeren.net.

*) bisa jadi /usr/local/USER-ID/home/www (tergantung setingan admin

hosting

Nah jika harddisk pada folder induk /usr/local/www/data penuh. Admin server hosting mungkin akan menambahkan harddisk tambahan (tergantung sisa slot controller hardisk yang masih tersedia) selanjutnya menambahkan mount point harddisk baru; misalnya /usr/local/www/data2/. Didalam data2/ baru akan ditempati oleh situs-situs lainnya. Fyi, folder data2 belum tentu harddisk fisik. Bisa jadi harddisk `virtual` dimana bisa jadi hardisk itu berbentuk iSCSI (SAN) ataupun NFS (Network Neighbourhood *Windows).

Ini dinamakan `overselling`, storage banyak tetapi resource pengolahnya miskin spek. Resource RAM, Bandwidth, dan CPU usagenya tetap sama; Tetapi media storage BEDA. Ini biasanya yang terjadi pada shared-hosting. Media ga penuh-penuh pada server rakitan yang cuma punya controller harddisk 8, tetapi bisa menampung banyak situs 😀 Dan tentunya anda bisa menarik kesimpulan, mengapa bisa susah akses situs pada shared-hosting; ketika tetangga `folder` sedang banyak yang mengakses — terutama menjalan Aplikasi CMS.

VPS: Virtual private Server Secara teknis berarti Sewa mesin Virtual. Anda seolah-olah memiliki Server sendiri. Kelebihannya adalah; bisa install paket-paket backend OS sendiri, menambahkan user pemakai server VPS sendiri dll. Artinya BEBAS tapi tetap terkekang *dalam arti harfiah. Pada hosting VPS di luar negeri, jika pembayaran melalui Paypal (kartu kredit) biasanya proses aktivasi Instan, mulai dari hitungan menit, server VPS sudah bisa diakses. Karena biasanya template harddisk OS sudah tersedia. Dan pilihan OS nya beraneka ragam. Mulai dari Linux Fedora (Desktop enabled), CentOS, Debian, FreeBSD baik versi 32bit ataupun 64bit.

openvz

Karena VPS menjatahkan utilitas procesor fisik sekian MHz (bahkan GHz) untuk 1 akun; provider hosting-VPS tidak bisa menempatkan banyak akun pada satu mesin. Misalnya pada mesin server yang mempunyai 4 soket, dimana 1 socketnya memiliki 8 Cores dengan kecepatan masing-masing core-nya 2 Ghz. Dengan RAM fisik 128 GB dan harddisk yang biasanya per-keping hanya ditempati untuk 4-6 Akun. Dengan kalkulasi kasar pola pikir saya, satu mesin ini, maksimal akun VPS tidak lah lebih dari 50 akun. Oh ya, biasanya untuk menghindari bottle-neck pada koneksi, ethernet fisik akan ditambakan lalu ethernet tambahan ini akan di bonding ke mesin VPS; Misalnya 10 VPS akun akan menggunakan ethernet gigabit yang adapter #1, akun 11-20 akan menggunakan eth adapter #2 dan seterusnya.

Banyak aplikasi (bahkan OS khusus) untuk membuat VPS pada mesin fisik. Misalnya XEN, OpenVZ, VMWare VSphere, KVM dll. OS untuk host (fisik) haruslah versi 64bit, karena mesin tsb biasanya menggunakan ram Fisik lebih dari 4 GB. So, VPS kesimpulannya adalah `partisi` resource yang tidak akan menganggu tetangga *secara teori. Yang satu-satunya kendala dalam VPS adalah, jika mesin fisik terjadi kerusakan baik fisik ataupun Software host — akan mengakibatkan seluruh VPS akan mati 😀 dan untuk proses booting sampai seluruh akun VPS berjalan memakan waktu puluhan menit sampai hitungan jam.

Untuk mengakses VPS bisa melalui web-interface yang berbasikan javascript, Flash ataupun Java *). Pada layanan VPS tertentu bahkan diberikan akses Desktop VNC/ RDP yang seolah-olah monitor langsung. Saya pernah baca dan menyaksikan, bahkan installasi OS didalam VPS bisa menggunakan file ISO dari mana

Dedicated-Server adalah menyewa mesin dengan spek yang `agak` bebas. Serta dengan kontrak servis untuk setup dan maintenen. Misalnya ada paket dedicated 4 cores 2.8 GHz, Ram 16 GB, harddisk 300 GB Sas Centos, dengan bandwidth 2 mbps. Paket tersebut bisa di kustomisasi. Misalnya menambahkan harddisk 1 TB, ram 32 dll. Anda bahkan tidak perlu melihat warna casing dan dimana mesin tsb di tampung pada rack. Setelah OS di setup beserta aplikasi pendukung. Anda akan diberi password ROOT / Administrator mesin tsb. Tergantung kontrak, jika memang ada layanan tambahan. misalnya backup data silakan tambahkan user baru agar bisa mengakses hardisk server. Dan pada akhir kontrak atau beberapa bulan setelah gagal bayar 😀 Mesin tsb akan bisa disewakan kembali pada orang lain, dan ada security risk disitu. Data anda bisa di recovery jika ada orang iseng 😀

Pada dedicated-server provider yang `tenar` seperti Softlayer, Godaddy Proses reset mesin bisa melaui control-panel web interface. Serta KVM (keyboard video mouse) hardware yang bisa dioperasikan dari jarak jauh. Karena pada stacker listrik mesin akan mempunyai alamat node tersendiri yang akan putus sesaat jika dilakukan perintah. Dan KVM ini adalah untuk meremote fisik melalui jalur lain, bukan sesi via Telnet/SSH dan yang sejenis. Tetapi remote emulasi ke KVM fisik. Di ISP/Data center lokal saya belum pernah lihat ada atau tidaknya fitur KVM & Power over Ip seperti ini.

Proses aktivasi; (jika pembayaran sudah diterima) `cuma` memakan beberapa jam saja. Merakit & install OS sesuai spek, menaruh di rack serta sedikit konfigurasi agar bisa diakses. Kalau dedicated `lokal` biasanya dalam hitungan hari sejak pembayaran sudah terkonfirmasi.

Co-location secara teknis cuma `sewa` tempat, listrik serta sambungan kabel utp. Semakin besar space rack semakin mahal. Tambahan 1 kabel koneksi yang biasanya utp/stp akan dikenakan biaya; maksudnya kabel dari switch IDC ke mesin server anda. Yang akan dikenakan biaya oleh IDC adalah koneksi, jumlah mesin, jumlah public ip address serta device tambahan; misalnya NAS, Switch-hub dll. Yang perlu diperhatikan adalah stacker (colokan) listrik pada rack. Misalkan 1 rack terdapat 4 partisi — alangkah baiknya ditiap partisi tsb akan ada pemutus arus sehingga jika ada satu mesin yang mengakibatkan konseleting tidak berimbas pada partisi yang lain. Fitur ini rata-rata tidak tersedia pada semua data center. Cuma beberapa saja yang menyediakan fitur ini.

rack server

Menurut saya jika memang budget tidak ada masalah silakan tambahkan UPS model rack jika memang fitur rack tidak komplit. Ini berjaga-jaga kalau terjadi power-failure pada data center. Sudah seharusnya data center harus memiliki big-UPS dan genset untuk suplai listrik 24/7. Tetapi untuk berjaga-jaga, tidak ada salahnya menambahkan biaya kepemilikan UPS yang diletakan di rack data center sendiri.

Jika dedicated server OS akan di install dan ditentukan oleh vendor, password root/administrator juga mereka yang mensetup. Karena co-lo mesin sendiri, OS apapun asalkan Legal, boleh di install. Begitu pula kerusakan/penggantian hardware, Co-location sepenuhnya tanggung jawab penyewa rack. Dedicated Server; jika terdapat hardware failure yang biasanya tidak jauh-jauh dari Power Supply dan harddisk, sparepartnya akan diganti langsung oleh IDC. Karena dedicated-server adalah menyewa mesin, beserta utilitasnya.

Repotnya, anda harus membawa sendiri mesin-mesin anda ke IDC dan installasi software sebaiknya dilakukan diluar IDC, karena lingkungan didalam IDC kurang ideal untuk bekerja 😀 Jadi ketika mesin telah terpasang di rack, setup fisik by keyboard hanya seting yang ringan-ringan saja, seperti ip-address, DNS dan sebagainya pada router. Tiap mesin sudah dibekali IP LAN serta port-fordward dari IP-publik yang akan diberikan oleh staff NOC-IDC.

Pada akhir kontrak, mesin anda ambil kembali atau jika memang sudah usang tidak usah diambil. dalam beberapa minggu mesin anda akan di masukkan gudang dan selang beberapa bulan kemudian akan di loakan atau di preteli oleh oknum 😀 Untuk proses upgrade biasanya diperlukan SPK (Surat Tugas) yang dikeluarkan dari Kantor penyewa. Misalnya untuk membawa barang (sparepart) masuk (baru) dan yang rusak dibawa keluar membutuhkan sedikit birokrasi. Tiap data center berbeda caranya.

Tagihan co-location, vps, dedicated bisa dibayarkan dengan siklus bulanan; dengan metode pembayaran yang sudah disepakati sebelumnya. Jika menggunakan VPS/Dedicated diluar negeri lebih baik menggunakan pembayaran via kartu kredit untuk autodebetnya. Agar terbebas masalah suspensi karena birokrasi dipembayaran.

Jika tidak ada yang cocok, terpaksa data-farm sendiri artinya, membuat data center sendiri dimana dibutuhkan perancangan kelistrikan yang bagus serta koneksi jaringan yang baik dan cepat. Dedicated connection melalui jalur fiber optic adalah keharusan. UPS dan Genset sebaiknya dimiliki agar berjaga-jaga kalau PLN sedang kumat. Juga penting menggunakan pendinginan ruangan dengan temperatur maksimal 20 derajat celcius.

Lalu mana yang cocok untuk anda? Tentukan sendiri. Dedicated cocok jika mesin server dibawah 3, jika lebih saya sarankan Co-location, walaupun agak sedikit rumit. Memang dengan membuat data-farm sendiri, jika banyaknya mesin server sudah puluhan akan jauh lebih murah. Tetapi repot di mantenen `gedung`. Jika SDM ada tidak ada masalah, jika tidak ada SDM yang handal silakan titipkan server dipenampungan IDC 😀

Strategi mesin untuk membuat shared-hosting sendiri; budget oriented.

Sebaiknya untuk mengurangi budget, server rakit sendiri. Desktop based saja. Misalnya CPU Intel Core i7 ataupun Amd X6 keatas. Ram 32GB, harddisk 3 TB x4 + optical drive. Power Supply Pure 500 W+ gold series. Co-location kan di ISP/Provider pilihan anda. Berikan 2 publik ip-address. IP address yang pertama untuk IP-Address seluruh client hosting, yang satu lagi untuk DNS Server. DNS server bisa langsung di install di OS Host ataupun buat satu node VPS pada mesin yang sama di setup untuk melayani DNS untuk keperluan shared-hosting. biasanya paket-paket yang di install Webserver (nginx/apache/lighty), Database server (MySQL/MariaDB/PostgreSQL), PHP + ektensi (curl, xml, imap), Mail server (Qmail dkk), FTP (ftpd), Awstat dll. 2 Harddisk untuk sistem dan data www client, 1 harddisk untuk stat & logs, dan 1 harddisk untuk database server.

Nah, karena etikanya DNS Server minimal dua, dan berbeda `geografis`. Geografis ini bisa jadi beda ISP ataupun beda Negara. Untuk itu belilah akun VPS di luar neger/lokal yang disetup sebagai DNS server Slave (ns2). Untuk membuat shared hosting diperlukan adanya software Control Panel. Serta management setup. Untuk itu perlu diadakan pembelian software yang terkait. Langkah-langkah ini boleh dilakukan jika sudah pernah berbisnis reseller hosting, dan sukses 😀

untuk itu anda memerlukan mengurus birokrasi Perusahaan terbatas. Mulai dari pengurusuan TDP Domisili, SIUP, NPWP dll — Birokrasi sudah mulai rumit. Karena anda sudah harus bayar `pajak` dan manajemen yang bagus. Lalu siapa yang mau hosting ditempat anda kalau belum punya reputasi? Untuk itu diperlukan SEO dan aktif di forum-forum yang berkaitan dengan web-devel ataupun yang terkait. Dan jangan lupa, masalah teknis & security yang sangat pelik akan dihadapi tiap harinya 😀

gzip imageslight_logo

Situs ini kehilangan image dan files penunjang; karena terjadi storage failure dan saya tidak menyimpan backupnya - harap maklum
+