Teknik mempercepat Website

Ada berbagai cara mempercepat pemuatan website dari server ke browser, baik di sisi Script, penempatan file, kompressi di protokol http, menggunakan CDN dll.

Bila anda mempunyai website yang terletak di datacenter Eropa / Amerika cukup membayar mulai puluhan dollar sampai ratusan, semuanya akan otomatis 😀 Untuk itu; gunakan layanan CDN termudah yang pernah saya temui. Yaitu menggunakan layanan CloudFlare.

Setup CloudFlare hampir otomatis, anda tinggal mengganti name-server di domain control panel dengan dns 1&2 nya cloudfire. Teknisnya: CloudFlare akan mengupload ke beberapa server semua conten situs anda. Ketika ada user dari negara; misalnya Belgia, Server yang tadinya request ke Newyork (misalnya kota ini tempat hosting anda), akan dilarikan ke Negara tsb, atau yang terdekat. Ini berkat pemanfaatan teknologi dilevel DNS. Walaupun anda mempunyai sub-domain, MX record yang banyak sekalipun — CloudFlare akan mendownload dan mengunduhnya ke beberapa lokasi server dibelahan dunia dalam hitungan menit/jam.

Bagaimana kalau website hosting di ASIA, terutama di Indonesia? teknik CDN CloudFlare tidak bisa dimanfaatkan karena beberapa faktor; saya tidak jelaskan disini sebabnya 😀

Untuk itu, hal sederhana yang bisa dilakukan, jika anda memanage server sendiri adalah menggunakan plugins tambahan untuk meng-compress file-file static anda. Di Server Windows ada settingan untuk men-cache script asp/aspx. Untuk kompresi, bisa gunakan tools tambahan. Baca artikel di Link ini, berlaku untuk Windows 2003.

http://www.microsoft.com/technet/prodtechnol/WindowsServer2003/Library/IIS/25d2170b-09c0-45fd-8da4-898cf9a7d568.mspx?mfr=true

 

Atau, gunakan utility berbayar, namanya httpzip buatan port80 software. Software ini akan ‘cerdas’ mengcompress file-file static yang sering diakses oleh pengunjung. Pengaturannya sangat mudah. Sayang harganya relatif mahal, untuk satu Lisensi server harganya 350 usd. Jika ingin men-cache aplikasi webapp (aspx,asp) tambah lisensinya untuk mendapatkan utility cache-right. Beli 2 harga lebih murah; sebesar 470 usd.

 

Untuk keluarga Unix, mayoritas webserver menggunakan Apache, Nginx atau Lighty. Biasanya sudah ada modul untuk kompress file-file static; berformat Gzip; atau minify html,css,js secara realtime atau dengan menggunakan sistem cache. Kalau apache, aktifkan mod_deflate. Untuk pemakaiannya silakan browsing sendiri cara penggunaannya, bisa dipadukan dengan PHP juga.

Keuntungannya, baik compress iis – httpzip/ apache gzip adalah bandiwdth akan turun cukup signifikan,  tetapi processor server akan lebih banyak terutilitas. Jika memang work-load cpu tanpa dicompress kurang dari 70%, silakan gunakan teknik kompresi.

Bisa juga minify secara offline, menggunakan css/js compressor, lalu replace js/css yang lama dengan versi yg minify/tidy. Proses ini membuang hal-hal yg tidak diperlukan di dalam file js/css. Ada banyak tools online packer/minfiy ini; coba browsing di google dengan keyword “javscript css compress/packer

Teknik lainnya adalah memecah file static ke lain server dan lain ISP. Misalnya file script dinamik php/asp anda hosting di Biznet, lalu pindahkan semua file static (jpg, css, js) ke ISP CBN. buat subdomain untuk link ke CBN. misalnya domain anda www.anu.com, tambahkan A-record di domain cpanel: static.anu.com yang di pointing ke CBN. memang agak repot.

merubah semua isi script yang tadinya:

<img src=”/img/anu.jpg”>

<script src=”/js/script.js”>

<link rel=”stylesheet” href=/css/style.css>

dirubah menjadi

 

<img src=”http://static.anu.com/img/anu.jpg”>

<script src=”http://static.anu.com/js/script.js”>

<link rel=”stylesheet” href=http://static.anu.com/css/style.css>

 

Nah, bisa juga anda padukan metode kompressi dan pemecahan file statik/dinamik; hasilnya prosess lebih cepat. Karena begitu script dinamik di lempar ke browser pengunjung, tidak ada lagi antrian request file-file static di server yang sama.

Bagi pengguna CMS populer seperti WordPress, Drupal dll, bisa memanfaatkan plugins pembuat file static, sehingga akses baca ke database bisa dihilangkan. Intinya program cache semacam ini akan membuat file temporer ke suatu folder tertentu pada webserver, jika ada request yang sama oleh client, aplikasi tsb mengecek, apakah ada file temporer yang sudah diolah sebelumnya atau tidak. Jika sudah ada, proses koneksi dan pengambilan data dari database tidak diperlukan lagi. Sehingga secara teori proses akan cepat; terlebih pada shared hosting. Pada WordPress ada banyak macam plugins ini, saya kebetulan memakai Quick Cache; ada versi Lite (free) dan yang berbayar.

quick cache Screenshot 2Jadi jika suatu situs memakai WordPress+ Cacher plugins+ CDN berbayar (MaxCDN/Cloudflare) situs niscaya akan cepat sekali proses rendernya ke browser client 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post By Tommy Wiranto (68 Posts)

Rasa ingin tahunya, terkadang 101% -- petualang yang tertahan. Terkadang sombong, tetapi pada tempatnya.

Website: →

Connect