Pergeseran Budaya Tekno Informasi

Pengalaman berkelut dengan media teknologi dan informasi saya umbar dengan seingat saya ya…

Dulu, ketika teknologi antar PC untuk berkomunikasi jarak sedang~jauh masih menggunakan modem analog dialup dengan kecepatan 14~28 kbps, trend saat itu adalah ikutan Mailing-List (milis).  Kalau ga salah tahun 1990an. Media komunikasi yang tidak terpantau oleh pemerintah ya MILIS itu. Banyak milis yang terkenal, salah satunya apakabar di clark-net (cmiiw). Saat itu yahoo-groups belum ada. Jadi untuk registrasi, mengirimkan blank mail dengan subject register.

Di milis apakabar itu, menurut saya info-info politik lebih dominan, mungkin di milis tsb, gejolak politik era Pak Harto  dimulai, karena disaat itu yang memiliki akun email memang terbatas. Bahkan Yahoo mail pun belum ada, kebanyakan user milis menggunakan pop-email yang biasanya diberikan ISP gratis selama berlangganan.

BTW, Internet Service Provider (ISP) saat itu tidak banyak, dan juga modemnya, seingat saya ISP-isp tua diantaranya: Idolanet, Indonet, CBN, Centrin. Dan Linenya pun tidak terlalu banyak, mirip dial-in ke BBS 😀 Ketika ada user mendaftar ISP,  dan sudah membayar uang pangkal 😉 — ISP akan memberikan internet media kit dalam bentuk beberapa disket 3.5 inch. DIdalamnya kita bisa menemui Browser, Chat app, dan Email CLient. Biasanya ga jauh-jauh dari Netscape Navigator sebagai browser, Eudora sebagai mail-client, dan mIRC sebagai chat-apps. Yang proses installasinya relatif mudah untuk Windows 3.x.

Proses installasi modem external cukup menyolokkan ke port COM-1 atau COM-2 dibelakang PC/Laptop. Installasi software cukup mudah, seingat saya. Kecuali tipe modem internal. Lumayan sulit baik konfigurasi atau installasi drivernya. Merek-merek seperti Heyes, Motorola, US-Robotic sangatlah jadi primadona disaat itu, karena tahan banting dan memang yang bisa ditemui yah merek-merek tsb 😀 Oh ya, ISP mencharge ke customer berdasarkan durasi pemakaian dalam 1 bulan siklus penagihan. Saya lupa berapa kira-kira dikenai biaya untuk 1 jam koneksinya. Untuk pemakaian semi-wajar, kira-kira perbulan, tagihan ISP tidak sampai Rp. 100.000,- seratus ribu rupiah. Ingat, saat itu kurs USD-IDR tidak seperti saat artikel ini ditulis 1 USD= 14.000 IDR

 

 

 

Mulai masuk era kecepatan internet 33.6~ 56 kbps. Situs-situs (website) atau saat itu terkenal dengan sebutan Home page mulai bermunculan, Yahoo dan MSN jadi primadona. Hotmail diluncurkan sebagai satu-satunya layanan email berbasikan browser (www). Wow, saya sangat kagum saat itu. Bisa akses email dari browser di PC manapun. Microsoft Internet Explorer akhirnya mulai beken sebagai alternatif Netscape Navigator yang saat itu sebagai rajanya browser. Ga lama yah muncul situs-situs berita lokal, e-commerse, Web Hosting personal dll.

ICQ & Yahoo Messenger merajai chatting personal, chat-room tetap mIRC yang mainstream. Kelemahan ICQ saat itu, id usernya berbasikan nomor. Itu yang paling membuat saya tidak terlalu suka menggunakan ICQ. Yahoo! Messenger (YM) sangat populer sebagai media komunikasi personal. Person to person. Baik di Warnet ataupun dipakai sebagai media komunikasi bisnis diperkantoran.

Saya skip koneksi ISDN, karena saya hanya mengalami 3-4 bulan saja saat masih awal bekerja. Speednya juga tidak beda jauh dengan v92 (56kbps). Media tetap sama, menggunakan jalur kabel tembaga telepon telkom. Dan modem ISDN bentuk dan cara penggunaanya sama dengan modem dialup 56kbps.

Milis tetap beken seingat saya, sampai zaman koneksi broadband ADSL, walaupun trendnya dibaca menggunakan browser via web-mail, bukan lagi email-client. Koneksi ADSL tetap menggunakan media kabel yang sama, akan tetapi modemnya agak sedikit berbeda. Dan koneksi agak lumayan, saya mengalami menggunakan ADSL 384 kbps yang cukup untuk internet sharing se-kantor. Tentu saja dengan sentuhan proxy-cache agar yang browsing situs populer ter-cache di lokal server.

Miring sedikit; era mobile internet sudah ada sebelum ADSL populer, tetapi dengan kecepatan yang mirip era dialup 14kbps. GPRS-EDGE-3G. Untuk 3G agak mendingan, terkadang. NOKIA lagi jaya-jaya nya nih. Tetapi bagi saya internetan di HP saat itu belum cukup penting. Yang populer, di era mobile awal-awal ini, kebanyakan yang berbau chatting.

Media sosial mulai bergeliat, web forum berbasikan vBulletin seperti Kaskus mulai menjadi trend. Lainnya, seperti friendster juga menjadi menu wajib pengguna aktif internet. ADSL dirajai Telkom Speedy, walaupun kita bisa menumpang kabel Telkom, tetapi menggunakan ISP alternatif.  Tetapi, ketika ADSL mengalami cut-off, dan menggunakan ISP non-Telkom, maka proses recovery akan memakan waktu yang cukup lama.

Tidak lama, banyak ISP melaunching layanan wireless broadband dan dedicated. Di frekuensi 2.4 & 5.8 ghz. Akhirnya kantor saya bermigrasi ke layanan itu, Frekuensi memakai 5.8ghz. Era kabel Fiber Optik untuk internet sudah ada, tetapi cakupan wilayah masih terbatas. Speed relatif lumayan 2 mbps. Tetapi, terkadang timeout sesaat. Yah wajar-wajar saja, karena bukan di dedicated 7 ghz, yang clear-licensed frequency.

Trend milis dan chat-room (IRC) mulai ditinggalkan, atau tidak begitu beken. Media sosial mulai menjadi de-facto. Browser-browser makin banyak. Tetapi browser tua mulai ditinggalkan, aneh juga. Google mulai menjadi pusat pencarian. Netters mulai tidak lagi mencari di Lycos, Yahoo/Msn. YM masih relatif digunakan baik di mobile ataupun desktop. Forum-forum berbasikan www mulai banyak bertebaran. Dari yang negatif sampai yang umum. Era e-commerse masih berbasiskan posting di forum semacam Fjb-Kaskus/Chip- Classi.

Dan…. Era murni 3G sudah mulai bertebaran di kota-kota provinsi. Koneksi lumayan cepat dan gadget sudah relatif canggih (baca Black berry). Disini era Facebook, Twitter, Google mulai mencengkram sampai saat artikel ini ditulis.  Saat itu, email sangatlah mudah dan cepat diakses di gadget BB & Android.

Era Fiber!!!! FTTH FTTx! kecepatan internet sudah ratusan mbps, bahkan gbps. Saat ini, yang saya alami speed mentoq di interface router dan internal lan (switch, client-nic/wifi). Benar-benar menakjubkan jika mengingat diera US-Robotic Courier dipakai, untuk mendownload file 1 MB saja butuh ber-jam-jam. Sekarang mendownload image OS legal, dijalur protokol torrent, hanya hitungan menit/detik. Telkom mulai bersaing dengan ISP-ISP kakap di era ini. Speed puluhan mbps sudah mulai banyak ditemui di rumah-rumah.

Dengan koneksi yang membuka video resolusi bagus  dalam hitungan detik, membuat pergeseran media hiburan. DVD/VCD/Vhs sudah tidak laku lagi. Bahkan Bluray Disc sudah bisa didonwload dalam bentuk image di situs-situs illegal untuk menonton film resolusi tinggi.  Era-era VCD/DVD player bermunculan, saya sangat senang membeli ‘kaset’ bajakan film. Tetapi sejak era ADSL+ (3 mbps). Saya sudah tidak lagi membeli kepingan kepingan nikmat itu.

Terjadi pergeseran lagi dari kepingan ke tak berbentuk. Website/Apps untuk menonton tayangan sudah jadi bagian hidup. Komunikasi dalam berbetuk face-2-face, suara ataupun teks  di transmisikan semua melalui internet.  Entah, bagi saya ini mimpi yang menjadi kenyataan. Tetapi sayangnya di Era komunkasi supercepat, banyak user yang termakan fitnah dari tulisan/tayangan pada situs/media sosial. Sayang sekali. Musim HOAX – Ini dialami yang baru saja berkenalan dengan gadget. Dimana sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia internet.

Internet sudah mulai bagian dari kebutuhan hidup primary untuk mayoritas orang.  Dan akibat internet super cepat, banyak pekerjaan-pekerjaan yang hilang dan tumbuh akibatnya. Contohnya buku kuning (yellow pages). Dulu, sumber referensi utama pencarian produk/jasa. Sekarang? Tidak lagi. Cukup cari di market place/e-commerse. Belanja untuk kebutuhan tertentu sudah tidak perlu datang lagi, cukup menggukan pc/gadget. Bayar online, barang datang dalam beberapa jam kemudian.

Disektor otomotif, karena semakin mudahnya mendapatkan akses keuangan kredit, kendaraan segala roda makin banyak karena Manusia semakin banyak, akses informasi semakin cepat. Selanjutnya apa yang terjadi? Konflik untuk memperebutkan ‘sesuatu’. Tekno-info mempermudah orang sekaligus memperbodoh orang. Akibatnya konflik lagi. Si bodoh so-tau V.S si tua-pengalaman V.S muda-bijak. Dan ini ditemui disegala sektor. Menurut hemat saya yang terkadang boros ini.

Loh-loh koq melenceng jauh nih, sebagai penutup, Kembali lagi ke era FTTx.  Akibat internet, pekerjaan yang timbul yang tidak terpikirkan sebelumnya, contoh: Admin SSL, saya baca di situs lowongan kerja. Situs market place yang membuka lowongan tsb membutuhkan admin sertifikat SSL, karena situs tsb ber-protokol https. dimana multiple server satu domain internet. Sehingga, membutuhkan orang yang khusus memaintain sertifikat-sertifikat di seluruh front-end server, supaya SSL tidak invalid dibrowser/apps pengunjung. Kalau belum ngeh apa itu sertifikat SSL 1 domain name, multiple common-name, multiple os version & server. Silakan browsing-browsing biar tidak termakan hoax murahan.

Kembali ke mobile, evdo, 3g serta 4 generation LTE. Gadget canggih lawas mulai punah, era layar sentuh dan sistem operasi Android dan iOS. Mobile gaming online mulai merebak, meninggalkan Warnet Game Center. 1-2 Tahun lalu saya masih aktiv main game off-line di PC, saat ini koq rasanya malas, lebih suka menonton tayangan semi-online.  apakah saya bosan? atau pergeseran budaya? atau hal lainnya, entah lah. Tetapi media sosial, masih cukup bermanfaat sebagai sarana komunikasi pasif/aktiv, bagi saya loh. Cuma berbagi pengalaman, mungkin banyak yang salah akibat lupa atau memang salah paham, harap maklum.

The End.

 

Post By Tommy Wiranto (68 Posts)

Rasa ingin tahunya, terkadang 101% -- petualang yang tertahan. Terkadang sombong, tetapi pada tempatnya.

Website: →

Connect